Tampilkan postingan dengan label soliloquy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label soliloquy. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Juni 2013

tentang berjuang



 Cukup lama juga saya meninggalkan aktifitas menulis. Tergantikan setumpuk kegiatan khas ibu rumah tangga. Terbangun di pagi yang masih cukup muda, bersegera menyiapkan segala keperluan suami dan seorang balita kami. Menyongsong siang, masih disibukkan dengan balita yang sedang sangat aktif, memasak hidangan untuk seharian itu, dan membereskan rumah dari kekacauan yang ditinggalkan si bocah kecil. Saat malam mulai datang, pun masih harus berdiri tegak melupakan penat menyiapkan keperluan suami yang baru saja pulang, serta tetap harus meladeni si kecil yang tak pernah kehabisan energi. Maka, habis, kosong, kuras, seluruh energi ini. Tertinggal sisa, yang dibawa rebah ke tempat tidur.

Sesekali meneguhkan tekad untuk menulis lintasan-lintasan ide yang tak pernah berhenti lalu lalang, namun selalu terkalahkan oleh kantuk yang ikut menyergap saat me-nina bobokan balitaku tersayang. Lagi-lagi seluruh ide hari itu lenyap bersama kelopak mata yang mulai terpejam. Tapi entah kenapa, malam ini, malam yang sama seperti malam-malam lainnya, seperti ada kekuatan lebih dahsyat dari biasanya yang menggerakkan tangan saya untuk menggapai laptop, dan mulai mengetik beberapa baris kalimat pembuka ini. So here I am, di sinilah saya pada malam hari rabu, 5 juni 2013 pukul 23.30, mulai menulis, lagi  :)

Kurang lebih telah dua tahun kami menjalani pernikahan, kurang lebih dua tahun pula saya telah belajar banyak tentang hidup.
Sungguh semuanya terlihat dan terasa berbeda, kini. Saya lebih merasai, rasanya benar-benar berjuang (kalau boleh dibilang sampai berdarah-darah). Sebelumnya hidup saya mudah, way too easy, jauh terlalu mudah untuk dikatakan telah “hidup”. Keinginan dan pemenuhan keinginan selalu berjalan beriringan. Jika di saat ini saya ingin sesuatu, maka paling lambat esok harinya, hal itu telah ada di genggaman saya. Way too easy.. Sepertinya sejak kecil, mama dan papa saya yang baik hati telah berusaha sedemikian keras hingga anaknya tak perlu merasakan pahit dan getirnya hidup. Terlebih, di masa kuliah yang sangat dan terlalu santai telah begitu melenakan sekaligus mengajarkan pola hidup terlalu enak. Kiriman uang yang selalu lebih dari cukup dan tak pernah putus, telah menjadi kan gaya hidup materialistis-hedonis hinggap pada diri saya. Setelah lulus kuliah, saya bekerja di perusahaan swasta dan tinggal bersama orang tua. Gaji saya utuh, tak pernah terusik karena soal makan dan kebutuhan lainnya, menjadi  urusan orang tua. Bisa bayangkan apa yang dapat dilakukan perempuan lajang yang semua kebutuhannya terpenuhi dan rekening masih full. Ya, hepi-hepi. Mulai dari nonton film di bioskop, jalan-jalan, makan-makan, berjam-jam di salon, beli sepatu, tas dan baju. Ahhh, benar-benar bukan tingkah laku yang saya banggakan.  Pola pikir yang sangat salah, namun terasa sangat nikmat saat itu.  There’s no way I could stop it.

Mungkin, mungkin nih yaa.. satu-satu nya jalan yang Tuhan lihat untuk merubahku adalah dengan cara “menceburkanku” ke dalam hidup yang sama sekali berbeda. Yang tak kukenal sama sekali sebelumnya.

Setelah menikah, aku tinggal jauuuhhhh sekali dari orang tuaku yang selama ini selalu “menjagaku” dari perihnya hidup. Tak ada lagi sokongan dana. Bukan, bukan karena mereka tiba-tiba pelit, tetapi lebih karena aku sungguh sungkan merepotkan mereka. Mulailah kami menyusun batu bata hidup kami sendiri.Hiidup dari hasil keringat kami sendiri. Suami bekerja di perusahaan multinasional, sedangkan aku mengisi waktu dengan menjadi pengajar bahasa di salah satu lembaga bahasa asing. Kami tinggal di daerah perkampungan di pinggiran kota Depok, berbaur dengan puluhan dan ratusan orang lainnya yang juga tengah berjuang demi hidup mereka.  Semuanya masih terasa cukup menyenangkan, sampai kami memutuskan bahwa aku akan berhenti bekerja dan berada di rumah mengurus bayi mungil kami.

“tangga terbawah rantai makanan”, begitu istilahku untuk orang-orang macam kami ini. Orang-orang yang jumlahnya sungguh sangat banyak, namun lemah dalam hal daya tawar. Terpinggirkan oleh mereka yang kuantitasnya kecil namun sungguh berdaya besar.

Cultural shock, homesick, loneliness adalah tiga hal yang menimbulkan perasaan insecure dalam diriku. Sungguh, masa-masa terkelam itu rasanya menyakitkan. Namun seperti kata bijak, segala sesuatu yang tak membunuhmu membuatmu lebih kuat. Itu juga terjadi padaku. Toh nyatanya aku tidak, atau belum mati , di tengah semua kesuraman itu. Itu membuatku lebih kuat untuk berdiri di sini, saat ini. Kuhabiskan banyak waktu kosongku dengan menggali passion yang sempat hampir padam dalam diriku, membuat kue. Ya, satu hal itu bisa menenangkanku di tengah gilanya usaha perjuangan untuk hidup ini. tak peduli punggung pegal dan mata siwer sehabis membuat dan mendekor cake, aku tak pernah kapok untuk melakukannya lagi,lagi,lagi,lagi,dan lagi (oohhh, kastamer-kastamerku tersayang “gunakanlah” aku untuk mewujudkan cake impian kalian, aku siapp tempurrr !!!)

Yaahh, kembali ke “tangga terbawah rantai makanan”, aku menikmati menjadi bagian darinya. Menikmati merasai ada kalanya kehabisan beras, menikmati sistem uang belanja dengan penjatahan per hari, menikmati berkumpul bersama ibu-ibu lain yang juga mengeluhkan masalah yang kurang lebih sama. Ahhh, tak kan bisa senikmat ini bila tak mampu berdamai dengan kenyataan.  Di sini, di “tangga terbawah rantai makanan” ini, tak ada gengsi-gengsian karena memang inilah ada seada-adanya hidup. Tak perlu khawatir akan hari esok karena selalu ada Tuhan yang maha mencukupkan. Tak perlu khawatir akan hari esok karena memang sejatinya kita tak memiliki apapun di dunia ini.

>> bermimpi, berjuang, bersabar, demikian kata seorang teman yang kupatri dalam-dalam di hati.

Sudah pukul 00.30. tepat satu jam lamanya aku menulis. Sekarang saatnya merebahkan badan dan istirahat. selamat malam dunia…. :)

Selasa, 04 Oktober 2011

Kepadamu,


Kepada cinta yang terlupa,
Cinta yang sama yang menghilang di sudut tawa berakhir di ekor mata Cinta yang pernah memeluk kita kala langit berubah jingga Yang pernah menawarkan beribu aksara serupa mata intan Cinta yang sama yang tergopoh-gopoh berlari pergi di penghujung malam Menghilang di ujung jalan setapak bernama derita Meninggalkan singgasana hati tanpa tanda

Kepada cinta yang terlupa,
Cinta yang sama yang dulu menggiring kita masuk bergelut di dalamnya Menggerus-gerus menandak-nandak logika menyesak-nyesak jiwa  Cinta yang sama yang sediakala menjadi pelipur segala lara Menjadi obat segala luka Menangkal segala bala Cinta yang sama yang membuatku mengira melihat sesuatu mengapung di matanya seperti cinta Yang membuatku mengira melihat sesuatu mengambang di bibirnya seperti suka

Kepada cinta yang terlupa,
Yang berhamburan entah dimana Yang menyeruak di tiap doa, aku titip dia…


Sabtu, 01 Oktober 2011


ombakpun menyerah pada pantai yang memeluknya, 
serupa pasrahnya sungai pada rengkuhan muara

Kamis, 25 Agustus 2011

di persimpangan idealisme dan tuntutan realitas


//mademoiselle lia


Tuhan, semoga nanti aku menjadi lebih baik dari mereka dalam memahamkan ilmu pada jiwa-jiwa yang sejatinya penuh antusiasme itu”, sebait doa yang tak berlebihan menurutku, yang sempat terucapkan olehnya di waktu itu. Sebait doa yang merupakan refleksi dari sebuah kegusaran akan sebuah sistem, sistem pendidikan yang menjejalkan ilmu untuk kemudian dilupakan pada esok harinya. Sebuah kegusaran yang mewujud dalam sebait doa dan mengejawantah dalam bentuk kerja keras dalam melakukan persiapan hingga ke detil terkecil. Tak heran, perfeksionisme sangat menonjol dalam prosesnya kala itu.

Tetapi apa yang kusebutkan  barusan itu adalah cerita dulu. Beberapa bulan lalu, di saat idealisme dan perfeksionisme berkolaborasi erat membentuk tindakannya. Sekarang, kedua hal itu tengah diuji oleh sebuah elemen bernama realitas. (anggap saja saat ini aku tengah tidak berbicara tentang realitas dari kacamata post-positivisme). Katakan saja, satu hal sudah pasti gugur, yaitu perfeksionisme. Tak mudah dan tak pernah mudah bertahan dengannya di saat manapun di dunia. Jadi, aku maklum dan sangat mafhum ketika ia kehilangan satu elemen itu. Tapi aku yakin,  setidaknya ia ingin mempertahankan satu elemen lagi, yang tanpanya pastilah ia dan segala tindakannya akan kehilangan makna. Idealisme.

Berbicara idealisme pasti tak kan pernah lepas dari cobaan. Maka berbicara idealisme adalah berbicara seberapa mampu sang aktor bertahan memegang teguh keyakinan di tengah gempuran banyak hal. Mulai dari keharusan dan tanggung jawab yang mendefinisi realitas, hingga ke hal-hal kecil namun tak pernah remeh serta persiapan-persiapan kecil namun bermakna besar. Akan ada dan selalu ada hal-hal bernama realitas yang mencoba mendikte, mengalihkan, membelokkan sang aktor dari satu tujuan utama yang telah jauh-jauh hari ditetapkan. Tujuan utama yang tentu saja tak boleh dikhianati oleh jiwa manapun yang mendamba kebaikan bagi dirinya dan orang lain. Tujuan utama yang terlalu berharga untuk dikorban demi letupan-letupan singkat realitas.

Maka ketika intensitas benturan-benturan realitas sudah semakin berulang, kembalikan saja hal ini pada ketelanjangan mengenai siapa sejatinya diri kita. Mengenai ke-ada-an kita, ke-manusia-an kita. Bukankah tak pernah, dan tak kan pernah ada nirwana setidaknya di dunia yang serba fatamorgana? Oleh sebab itu tetap peluk eratlah idealisme itu tak peduli sekeras apapun hantaman realitas. Tetap peluk eratlah idealisme itu tak peduli akan seperti apapun hasil akhirnya nanti, sebab kita adalah makhluk-makhluk yang tumbuh dan hidup dengan proses, (baca ‘yang instant hanya mie instant’). Bukan hasil akhir yang diperhitungkan, melainkan tindakan-tindakan nyata yang berarti.

“It is not who we are underneath,
but what we do that defines us”-bb.

Selasa, 22 Maret 2011

why do people write?


I asked my self this question a lot. Ya, why do we –human- write? Even in our first year of school or kinder garten, we’ve been announced to a thing named, writing. Even though at that time we just wrote some unclear lines, borders, shapes, and alphabets, but we wrote something.  As we grew older, those unclear lines, borders, and shapes become clearer year by year, and at the end we can write everything that is in our mind. This phenomenon really indicates that writing is a highly important activity in human life so that it is taught in human early years of life. So, what makes it that important?

A research in European countries shows that human writing activity can be traced back to year 4 BC. It reports that writing becomes a highly needed method to keep data and information in administrative works. At that time, writing becomes a permanent and trusted method to record the entire administrative task (Robinson, 2003). Based on this history, we can conclude that one of the importances of writing is to keep permanent memories about something. Well. It is unbeatable, because by writing human can keep the memories and information as long as they want to. Although the writer passed away, his/her memories will last because the writing is stand still. But I believe, writing has a lot more significance such as preventing stress; managing goals; sharing ideas; and convincing others.
Generally speaking, writing can help human dealing with their stress. Some people say that writing is healing. It means that to write your problem means lighten your burden. By writing, human can surge their problem and lighten their burden. Sometimes writing can also come with a solution to the problem. By this mean, stress levels can be decreased or vanished.

Writing can also help human in managing their life goals. A lot of motivator and successful people suggest us to write our dreams in order to make them come true. Writing our goals means focusing our brain and mind to those goals and ensures our body to walk in the right path of success.

The third significance of writing is to share ideas. So many brilliant ideas will remain idea if the people can not share their ideas with others. By sharing good idea with others, the writer contributes to the goodness of society.

At the end of this writing, I can say that –yes- writing is certainly important to keep memories; to cure stress; to manage goals; to share ideas; and also to convince others. In addition to the entire factors above, one thing for sure :  to write is to be happy!! :D

Rabu, 02 Maret 2011

sendiri, dan koloninya

Sudah berpuluh bahkan beribu kali dua puluh empat jam aku telah  habiskan dengan diriku sendiri, sayang. Sudah selama itu pula aku mulai mengakrabi sepi, menjamu sendiri. Aku telah melumat sekaligus mengakrabinya. Ya, sudah lama. Sudah lama sekali, sayang. Aku sudah mencintai kesendirian seada-adanya ia..

Tak perduli betapa ia kadang menghempas-hempaskan selagi merobek semangatku hingga kuyu, layu, tak bersisa. Di lain waktu ia malah dengan pongah mengagregasinya sedemikian rupa hingga aku tak dapat dihentikan. Ya, itulah dia yang telah aku lumat sekaligus melumatku, yang telah aku akrabi selagi ia akrabiku, yang telah aku cintai seada-adanya ia..

Sekarang, kau bisa lihat, sayang.. Betapa aku sudah menjadi karib dengannya. Sudah terlanjur begitu akrab dengan dia yang dahulu teramat aku benci.

Sayang, kamu tahu? Sebentar lagi ia juga akan meninggalkanku. Seperti semua hal yang sudah terlanjur menjadi tabiat karna biasa.Ia juga akan pergi, sama seperti semua hal lainnya. Pergi, berganti... Sedangkan aku, aku akan belajar lagi, dari awal, untuk mengakrabi, menjamu, mencinta koloninya yang akan segera datang. Mengakrabi, menjamu, dan mencintainya seada-adanya. Seperti dahulu aku mengakrabi kesendirian yang kini telah akan pergi.

Kamis, 27 Januari 2011

LOTS OF LAUGH, LOTS OF LOVE

Kita pernah bersama-sama di satu rentang waktu kan?

Di masa semuanya bukanlah soal yang terlalu penting, tidak begitu penting selama kita terus bersama-sama, berbagi, dan tertawa.

Di masa itu, kita bagi segalanya, hingga tak ada ruang bahkan untuk yang namanya rahasia. Tak ada ketakutan menumpahkan segala  cerita termasuk bagian terburuk  dari diri kita sekalipun – karna kita tau, sahabat tak mengadili, tak juga menghakimi. Cukup mendengarkan dengan sedikit dibumbui kebawelan dan, tentu saja, lots of laugh, lots of love :D . Mendengarkan, berbagi, dan tertawa, itulah ritual kita. Ya kan, gaiss?

Sayangnya, waktu tak mau lama-lama berdiam di satu titik. Karna konon kabarnya, satu-satunya hal yang tetap, pasti, dan niscaya, adalah perubahan. Bukankah itu juga yang terjadi pada kita? Masa itu, satu rentang waktu itu, sudah pergi, hilang, menguap, hingga tak bisa tergenggam lagi. Namun begitu, satu masa itu -ya rentang waktu yang itu- cukup mengisi hati kita dengan kehangatan, kebahagiaan, juga kasih sayang, sebagai bekal menjejakkan langkah ke depan, ke bilangan waktu yang sudah menanti di depan.

Sekarang, kita berada di masa sekarang. Sebuah masa yang disebut sebagai kekinian, KINI, PRESENT, bukan past ataupun future. Inilah kita, teman… Menjejak di atas bayangan kita tepat pada masa sekarang. Tergiring ke berbagai arah yang semakin mementalkan dimensi fisik antara kita.

Sekarang, di sini… di atas bayanganku sendiri. Di ordinat ini, di ruang yang terentang cukup jauh dari kalian, aku merindukan semuanya.  Merindukan berbagi, merindukan mendengarkan, merindukan tertawa bersama kalian. Merindukan moment yang aku pilih untuk disebut dengan,
lots of laugh lots of love…
once upon  time

Jumat, 05 November 2010

saya rindu......

well, it's been a long time...
sebenarnya...
sebenarnya...
saya rindu,,,,
saya rindu...
sungguh rindu padanya...


saya rindu....


menulis.




saya rindu...
apa saja tentangnya saya rindu..
saya rindu perasaan itu menjalar dari hati , menelusur ke jemari untuk kemudian ditelurkan oleh ujung pena atau tuts-tuts kibor..
saya rindu rolerkoster emosi saat tengah berdua-duaan saja dengannya
saya rindu terhanyut dan menderaskan seluruh yang ada di otak dan hati, sesegera mungkin sebelum ia menguap lagi...
saya rindu coretan-coretan tak jelas yang saya sebut tulisan itu...


saya rindu senyum-senyum simpul atau bahkan kerutan alis yang mengiri tiap kata yang berhasil ditelurkan...
saya rindu megawang-awang demi memilih diksi, yang walaupun sudah dipilih terkadang masih kurang pas..haha!
saya rindu kalimat-kalimat yang seringkali hiperbolis cenderung lebay itu mendarat di kertas putih tak berdosa... 
saya rindu bagaimana stuck dan lancarnya ia mengalir...
ahhh, saya rindu pada coretan-coretan tidak jelas yang saya sebut tulisan itu...


ya, saya rindu pada apa saja tentangnya.
mungkin tentang menyemutnya manusia di gelora bung karno waktu itu..
mungkin tentang cerita si sepatu usang..
mungkin tentang keajaiban  yang masih selalu terasa hangat...
mungkin tentang supernova...
mungkin tentang mata dunia bernama hubble...
mungkin tentang dia..
atau mungkin, tentang saat itu....??


bisa jadi,
karna semua adalah tentangnya yang saya rindukan...

Sabtu, 18 September 2010

coretan sabtu pagi


Ehmmm,kali ini tulisannya tidak akan tertata, dan tidak akan berusaha menatanya. Sedikitpun..

Tulisan ini berkisah mengenai seorang yang tak bisa memilah dan membedakan kenangan. Sesorang yang menggunakan kata ampuh yang sama untuk banyak perempuan yang numpang hadir atau bahkan sekedar lewat hidupnya. Seseorang yang terlalu murah dan mudah menjual kata-kata pada setiap, ehm,, perempuan yang hadir dan numpang lewat di hidupnya..

Cerita ini dimulai dengan deheman sopir buskota, yang tiba-tiba ngerem mendadak di tengah lalulintas padat. Akhirnya bus berhenti, secara tiba-tiba pastinya. Sopir bus yang berdehem tadi kesal dan langsung membelalakkan matanya ke arah seseorang yang berteriak minta busnya diberhentikan. Saat kata pertama dari sumpah serapah sang sopir mulai berhamburan dari mulutnya, penumpang tak tau diri yang berteriak histeris itu langsung menghambur keluar.. sang sopir nelangsa. Karna tak puas dengan kenyataan bahwa orang yang ingin dimakinya sudah menghilang di ujung jalan. Akhirnya ia telan ludah, telan kembali amarah yang sudah di ubun-ubun.. bus pun melaju dengan ogah-ogahan, seperti sang sopir yang mulai ogah-ogahan melanjutkan perjalanan di jalan ramai lancar itu…. Ternyata sang sopir juga menderita penyakit masa kini, #moodswing.

Sembari sang sopir berusaha melawan penyakit masa-kininya, si penumpang yang sudah berada di gang sempit itu kini berjalan agak loyo. Tidak seperti saat ia baru turun dari bis tadi, di mana ia berlari secepat mungkin. Bukan tanpa alasan hal itu ia lakukan. Ia baru tiba di kota tempat kasihnya-cintanya-sayangnya berada. Perasaan hati yang dagdigdug memaksanya untuk berjalan secepat mungkin menuju 'rumah hatinya' - 'selimut hatinya'. Itu istilahnya….

Pertemuan ala Rama-Shinta, Romeo-Juliet itupun terjadi dalam sejurus berikutnya. Maka berhamburanlah kata-kata mutiara dengan lancar jaya bagai air yang deras mengalir, dari sebuah rongga bernama mulut-yang didalamnya terdapat organ bernama lidah-yang konon kata orang tidak bertulang-yang karenanya dapat mengeluarkan kata-kata dalam susunan apapun tak peduli kata-kata itu pernah ia persembahkan kepada orang lain dengan sangat meyakinkannya.(waw..what a long sentence I had here!) Kata-kata mutiara yang konon katanya indah dan manis itu kembali berhamburan dengan deras, tidak peduli walau kata-kata itu dikutip dari kado seseorang lain untuknya.

Percakapan terus berlanjut. Kata mutiara terus berhamburan. Kenangan juga terus terukir. Menumpuk satu-demi-satu cerita dan puisi-puisi indah bersama sang rumah dan selimut hatinya. Hari beranjak senja, jingga mulai mengoyak biru.. Bukankah ini adalah momen terindah kebersamaan? Yang ada hanya semburat bayangan sepasang manusia itu, ditengah jingga dan biru yang saling melengkapi satu sama lain. Orang itu bahagia tak terkira, senyumnya bahkan tak cukup menampung kegirangan dan suka hatinya.. ahhh, cinta.. dimana-mana ia selalu terdengar dan tergambar indah…

Seperti kisah dongeng pada umumnya, mari kita akhiri saja potongan kisah satu ini dengan..
"dan mereka berdua akhirnya hidup bahagia selama-lamanya…" done!period!
Atau, ada yang ingin kisah ini berakhir dengan cara berbeda? Ahh, tak usahlah… bukankan kita selalu bahagia melihat sebuah happy ending?
yes for happy ending life stories


*Have a happy ending, everyone! ;)
Have a happy ending in our very own story, have a very happy ending for us all..!
Let us be busy creating a happy ending, for others, for us…

Sabtu, 28 Agustus 2010

*balada boneka usang (sebuah catatan si yellowcoco)


Tidak, bukan lenganku yang digamitnya,,
juga bukan tanganku yang digenggamnya di hadapan semua temannya.
Bukan aku, yang dibanggakan pada teman-temannnya.
Bukan aku, yang selalu dibawanya kemanapun pergi.

Tapi aku,
Tempatnya pulang ketika lara,  
Aku, dengan siapa ia bermain-main jika tak ada sesiapa di hadapan
Aku,yang didekapnya ketika tidur malam,
saat mama tarikkan selimut untuknya

Sekarang aku,
aku hanya terduduk di sini.di sudut gudangnya
Sendirian. Kedinginan. Ditemani jelaga

Padahal di masa itu tiap saat ia katakan,
akulah mainan terbaiknya.
"Mainan terbaik sepanjang masa!",
betapa hebat kedengarannya…
Kini teronggok saja di gudang berjelaga

Mungkin masanya sudah tiba,
baginya untuk tumbuh dewasa
dan tidak main boneka lagi
Mungkin masanya sudah tiba,
Bagiku untuk pergi dari hari-harinya
Karna ia, bukan lagi anak itu bagiku
ia bahkan bukan anak-anak lagi


> hasil menyalurkan empati pada yellowcoco di gudang..

Rabu, 18 Agustus 2010

kali ini "merdeka" bagi saya adalah....



Hari ini, pagi dimulai  di rumah, tepatnya di kamar tercinta yang menentramkan jiwa dan raga. Tidak di kantor, seperti pagi-pagi biasanya. Pagi ini dimulai di jendela kamar oleh burung-burung kecil yang konon bernama burung gereja. Dibuka dengan nyanyian dan nada alam dari kepakan sayap mereka  yang tengah berkejaran satu sama lain.

Tanpa sadar terucap “Alhamdulillah.. ini hari libur ( atau lebih tepatnya “Alhamdulillah…bisa libur”). Karna, libur dan mengawali pagi di rumah bagiku adalah suatu hal yang langka, selangka harimau Sumatra, dalam 4 bulan terakhir ini.

Wahh,tidak terasa sudah 4 bulan saja aku bekerja di (tiiiiiiiiiiiiiiiit).  dan selama itu pula, aku selalu merindukan hal bernama libur. Dan bayangkan, ketika hal langka itu datang menghampiri, betapa girangnya hati ini. Maka hari ini kumulai dengan kesyukuranku pada Tuhanku.. Thank God it’s holiday,, Alhamdulillah, ya Allah… bisa libur…. ;D

Di pagi 17 Agustus ini akhirnya kudapatkan juga kemerdekaan. Merdeka dari hal-hal berbau rutin yang sudah jadi menjemukan,seperti : “sudah follow up perusahaan A?”; “Sudah visit perusahaan B?”; “Gimana update hari ini?”; “Kenapa belum hubungi Ibu Z?” Ugh

Dan akhirnya termerdekakan. Walau untuk sementara
sementara saja

Tapi tak apalah, walaupun sementara tetap bersyukur atas hari ini, sambil kembali menyiapkan bekal berupa segudang ikhlas dan sabar untuk esok hari. Betul, kawan!! Diperlukan kadar ikhlas tingkat tinggi (yang tentu saja aku belum mencapainya) untuk dapat bertahan di dalamnya. Makanya, kutaksir hanya akan tinggal sebentar lagi usiaku di tempat itu.

Hhhmm,,tersampaikan juga akhirnya apa yang selama ini kuredam, walau hanya berupa kilasan, slight explanation. Jadi, kurasa untuk sementara hanya ini saja. Setidaknya mengurangi sedikit beban yang selama ini ditahan sendiri. Jika tulis terlalu banyak, keluarlah segalanya. Jika segalanya keluar, jatoh2 pada UU apa itu namanya? Yaaa, itulah dia! Tepat sekali! Kalau sudah begitu, saya akan rame-rame ngumpulin koin peduli saya   (ehhmmm emangnya siapa saya,yahh?? Aneh2 ae)

Yaahhh, pokoknya gitu deh. Saya tidak mau ambil pusing. (lha..pusing kok diambil,ngapain?? *maafkan ketidakjelasan saya kali ini ;p ) Ya, sudahlah…saya mau menikmati hari ini dulu,, dengan segala hal yang tidak bisa dilakukan di hari-hari biasanya.

Hhhhhmmmmm
Aku menarik napas dalam, berusaha menghimpun sebanyak mungkin udara segar pagi ini ke dalam paru-paru. Udara yang sama, yang dihirup oleh burung-burung gereja kecil di sana itu
;)



Selasa, 17 Agustus 2010

cruel, cruel time..

when it comes to the end
love could do nothing
but releasing

when it comes to the end
heart could do nothing
but try letting go

when my time reach its end
i will be sitting down here
below this tree of pain
doing nothing but watching
cause it is too late for carrying you off

yes, i am a hundred thousand years too late, dear...

harap pada bayang di sebrang










tumpukan harap pada sebrang,
maka kutumpukan langkah pada bayang
tak segan,,
kusebrang lautan
kuhadangkan diri pada ombak,
maka batuan tajam tak lagi terasa onak

semua karna bayang nun disebrang
penuh harap sebrang tak hanya bayang


letih meretas ombak melerai onak
harap labuhkan lelah pada sebrang
namun tak siapapun, hanya letih berbuah sia

Sabtu, 14 Agustus 2010

dia sudah pergi...

Kulirik lagi tempat ia biasa ada
masih kosong

padahal harusnya ia ada,,,
penuh tawa gemuruh yang guncang-guncang tubuhnya
Tapi kali ini kosong, hanya kosong saja,,
kosong
sekosong hatiku yang memang sedang hampa

padahal hari kemarin masih..
masih ada tawa
yang masih sama di sana
tengah mentertawai carut marutnya sistem kita
yang sudah cukup parah mencederai kita yang hanya rakyat jelata

hari ini beda
tidak kulihat lagi ia di sana
tempat yang sama, waktu yang sama
namun tak lagi terasa sama

hari ini beda
hanya aku sendirian dimakan putusasa
yang memamah asa hingga binasa
hanya aku saja berperan jadi rakyat jelata
hadapi tangan-tangan gemuk penuh kuasa

maka apalagi yang bisa kulakukan selain hadiahkan tarian-tarian hujan untuk sudahi satu babak cerita

karna satu cerita yang lain, sedang akan dimulai di satu tempat berbeda