Tampilkan postingan dengan label poems. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label poems. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Oktober 2011

Renungan 255 - Hasan Aspahani

*Taken from Hasan Aspahani >sejuta-puisi.blogspot.com

APA yang harus ada di kepala saat seseorang menulis puisi? Apakah ia harus menentukan ia hendak menulis sajak liris atau sajak protes? Apakah ia hendak menulis untuk dirinya sendiri atau untuk siapa yang kelak membaca sajaknya? Apakah ia harus menimbang-nimbang apa kelak reaksi pembaca atas sajaknya? Apakah ia harus menimbang apakah sajaknya nanti membuatnya masuk penjara?

Saya bilang, lupakan saja semua itu. Menulislah saja tanpa beban. Ingat, menulis adalah bagian dari upaya kita mencintai puisi. Maka, menulislah seakan hanya ada kau dan puisi. Layanilah kehendak puisi dengan sebaik-baiknya. Puaskanlah puisi. Menulislah tanpa peduli siapa dirimu dan bahkan saat itu lupakan saja apa itu puisi. []

Selasa, 04 Oktober 2011

Kepadamu,


Kepada cinta yang terlupa,
Cinta yang sama yang menghilang di sudut tawa berakhir di ekor mata Cinta yang pernah memeluk kita kala langit berubah jingga Yang pernah menawarkan beribu aksara serupa mata intan Cinta yang sama yang tergopoh-gopoh berlari pergi di penghujung malam Menghilang di ujung jalan setapak bernama derita Meninggalkan singgasana hati tanpa tanda

Kepada cinta yang terlupa,
Cinta yang sama yang dulu menggiring kita masuk bergelut di dalamnya Menggerus-gerus menandak-nandak logika menyesak-nyesak jiwa  Cinta yang sama yang sediakala menjadi pelipur segala lara Menjadi obat segala luka Menangkal segala bala Cinta yang sama yang membuatku mengira melihat sesuatu mengapung di matanya seperti cinta Yang membuatku mengira melihat sesuatu mengambang di bibirnya seperti suka

Kepada cinta yang terlupa,
Yang berhamburan entah dimana Yang menyeruak di tiap doa, aku titip dia…


Selasa, 23 Agustus 2011

Pelangi itu bernama jingga


//C’est


Jika memang jingga yang kau kejar,
ia ada di ujung sana
tengah menunggu saja
sesiapa yang cukup pongah untuk rengkuh dunianya

Jika memang jingga yang kau kejar,
turunkan sauh di sini
sebab takkan tergenapi sisa perjalanan dengan kapalmu
ia tidak dalam tak juga terlampau dangkal
namun melemahkan melelahkan
berjalan sajalah sendiri

Jika memang benar jingga,
Kayuhlah,lepaslah,tinggallah
kemudian biarkan hempas menggamitmu
biarkan debur meluruhmu
biarkan debu menyapumu

sebab ia tak lebih dari jingga,
yang tengah menunggu

tidak perlu punggungi
tidak juga ukirkan siluet pengap gelap,
ia tetap jingga
yang menunggu

Leona yang tengah murung


#
Leona yang tengah murung meratap-ratap menghentak-hentak
Sejenak terhenyak dengan pandangan tengah tersaji di hadapan
Kedua burung kecil warna-warni itu tengah berkasih-kasihan satu sama lain
Mematuk-matuk menengadah mencicit-cicit mengepak-ngepak
Demi memerah mukanya melihat kelakuan mereka

#
Leona yang tengah murung beranjak keatap
Berteriak-teriak pada pohon rambutan rimbun yang tak lagi memberi buah
Berharap mampu tunjukkan sedikit belas kasihan
Sudahlah hidup berputar sendiri di sekelilingnya
Tak pula teranggap ke-ada-annya

#
Mau apa lagi pikir 
Leona yang tengah murung
Kulangkahi saja cerita kukangkangi saja derita
Hendak apa?

#dan ketika...


Sosok perempuan paruh baya teronggok di jalan raya Merayapi lalu lalang para pejalan fana yang sibuk berlari,menyikuti,menggasaki, menggerogoti satu sama lain Terhamparlah diantaranya Serupa siput berupaya beringsut memaksa kaki-kaki keriput menyambangi jingga di ujung tepian

Pukul satu siang dunia fisika Artinya telah ia lewati separuh jatah harinya Kini menjalani sisa ruang dengan sisa umur yang masih dipunya Pukul satu siang dunia fisika Tangisnya pecah Tak kuasa menahankan sikutan gasakan seluruh pejalan fana dunia fisika Pukul satu siang dunia fisika Ia tertumbuk pada satu garis linear bernama hampa

Rabu, 01 Juni 2011

perihal ombak

1 juni,
dini hari.

kali ini tentang air yang menderas
Serupa riak air yang riang di awal namun berubah ganas di akhir,
tertinggal  jejak di dalamnya

perihal ombak dahsyat serupa badai yang memakuku tepat di tepian amukannya,
beserakan cerita di pusarannya

sedahsyat gemuruhnya, sederas muntahannya
berlarian kisah memunggungi luapan,
ceritapun tamat.
Habis.