Tampilkan postingan dengan label short story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label short story. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Mei 2011

cuma titik

hari yang masih sama saja. sama seperti kemarin-kemarin. menghabiskan 2 jam perjalanan dari kantor menuju kostan pengap di pinggiran kota hujan ini. bedanya, tadi singgah sebentar di toko buku. mencari-cari sebuah judul yang dulu pernah kau sarankan untukku baca. cuma itu, ya cuma itu bedanya hari ini.

sisanya, membunuh waktu di atas tempat tidur. memejamkan mata rapat-rapat, mencegah semua gambar-gambar mengerikan itu berputar ulang.

berhasil memejamkan mata, namun tidak dengan membungkam pemikiran, tanganku meraba pemutar musik usang. ya, dulu ini menjadi benda yang istimewa, karna pernah kulemparkan tepat di depan matamu. tanganku mencari-cari, dan berhenti pada sebuah lagu. terdengar lantunan suara khas menyenandungkan lagu ini 'coba kau katakan padaku apa yang seharusnya aku lakukan. bila larut tiba, wajahmu terbayang. kerinduan ini semakin dalam. gemuruh ombak di pantai kuta. sejuk lembut angin di bukit kintamani. gadis-gadis kecil menjajakan cincin, tak mampu mengusir kau yang manis. bila malam mata enggan terpejam, berbincang tentang bulan merah.'
ah, tidak. aku tidak suka lagu ini. kumatikan. kulempar lagi, bedanya kali ini tak ada kamu untuk kulempari lagi dengan benda ini.

enyah saja, enyah saja malam ini. biar besok cepat datang dan aku bisa mengulang semua ini lagi. persis.
persis seperti yang terjadi hari ini.

..............................................

Jumat, 28 Januari 2011

Menunggu adalah.....

Aku tidak bisa memaksa mata untuk mengalihkan pandangan dari jam dinding. Tidak bisa menahan telinga dari berusaha keras menangkap deru suara kendaraan. Tidak bisa mengontrol jantung yang berdegub terlampau cepat, pertanda hatiku sedang cemas. Tidak dapat juga menghentikan otak untuk berpikir, apa yang menahannya untuk tidak pulang padaku kali ini

Di luar, kegelapan sudah semakin pekat, dan langit mulai bergermuruh hebat. Sudah empat jam berlalu sejak aku terduduk di kursi goyang di teras ini. Pada akhirnya, di saat jam dinding tepat menunjuk angka 12, aku menyerah. Mungkin tidak hari ini, pikirku

Aku kembali masuk dengan tubuh yang semakin gemetaran. Memang, sudah dua bulan belakangan ini tubuh tuaku tak bisa lagi menahan paparan cuaca dingin untuk waktu yang lama. Menunggunya di kamar saja, batinku. Aku berjalan melewati teman-teman lain yang berkumpul di ruang santai. Terbius oleh sebuah kotak ajaib bercahaya ukuran 21 inci itu. Aku bahkanmeyakini, sebagian besar dari mereka tidak benar-benar mengerti apa yang tengah ditayangkan kotak bercahaya itu. Tapi sudahlah,  malam ini aku tak mau peduli dulu tentang itu.

Aku terus berjalan ke kamar, dengan susah payah menyeret kedua kakiku yang sudah menjadi sangat lemah ini. Naik ke tempat tidur dan menarik selimut tipis dan usang ini, mencoba membenamkan diri dalam-dalam. Menekan kuat-kuat rasa kecewa dan tersisihkan yang sudah kutelan selama beberapa tahun lamanya. Rasa terpinggirkan yang memang sudah menjadi makanan sehari-hari.

Ternyata, lagi-lagi, tidak hari ini Ros menjemputku

Dalam pelukan selimut tua ini, bayangan Ros melintas-lintas. Ros yang begitu lucu dan jenaka saat masih ada di pangkuanku, Ros yang merupakan anak cerdas di sekolahnya, Ros yang lulus kuliah dengan predikat sangat memuaskan, ahhh Ros yang cantik,yang cerdas, yang merupakan kebanggaanku. Anak semata wayangku yang kugadang-gadang akan menjadi orang sukses nantinya

Memang tidak salah, dia – anakku tersayang itu- telah menjadi orang besar, orang sukses.  Karna itulah, ia tidak bisa lagi membawaku serta saat ia harus ditugaskan di suatu tempat yang katanya jauh sekali. Oleh sebab itu, aku yang menumpang hidup padanya, terpaksa ia titipkan di sini, di panti ini. Walau bersikeras masih dapat menjaga diriku sendiri, ia menolak. Ia tak bisa menerima. Dan pada akhirnya menempatkanku di sini, bersama banyak orang tua terlantar lainnya. Sebenarnya amat perih, Ros-ku yang kugadang-gadang, meminggirkan aku dari hidupnya. Tapi toh, waktu beberapa tahun sudah terlewati, dan Ros berjanji akan kembali untuk menjemputku

Ahh, Ros-ku yang cantik, kalau memang tidak hari ini tak apalah,, Semoga esok kamu datang dan membawaku bersamamu

**

Ahhh, akhirnya

Di suatu pagi yang amat cerah, Ros datang. Ia datang dengan gaun pendek merah cerah, yang membungkus tubuh indahnya itu dengan sempurna. Ia memeluk sekantung besar bunga lili-kesukaanku. Tidak salah lagi, itu Ros. Dia memang cantik, bahkan terlihat lebih cantik dari terakhir kali aku melihatnya, saat ia mengantarkanku ke tempat ini. Ia turun dari mobil, senyumnya mengembang, ia berlari ke arahku. Segera mendekapku, memelukku erat..  Aku balas merangkulnya, meluapkan perasaan sayangku untuknya yang telah menunggu bertahun-tahun lamanya. “Kenapa lama sekali,Ros?” gumamku. Ia  gusar, seperti tak ingin menjawab, hanya menciumi wajahku saja

Ia akhirnya berkata “Maaf, membuat mama menunggu lama.. Tapi sekarang, Ros sudah selesai dengan semuanya. Sekarang hanya kita berdua. Ayo mama, kita pulang sekarang.. “
Aku tersenyum lega, aku menangis haru, , dan hanya bisa berkata, 
“Ahhhhhhh,akhirnya………..”

**

Pagi itu, seorang wanita paruh baya dengan dandanan kusut, melangkah tergesa ke sebuah unit instalasi gawat darurat di sebuah rumah sakit. Terlihat sekali, ia belum sempat membenahi dirinya dan langsung berangkat menuju rumah sakit yang disebutkan oleh pemilik panti werdha yang menghubunginya tadi subuh. Kebingungan, ia melongok setiap kamar yang dilalui, hingga akhirnya sampai di sebuah kamar. Pandangannya tertumbuk pada sosok renta seorang wanita tua berkulit putih pucat, rambut yang telah tipis dan putih seputih perak, mata yang terpejam, serta bibir mengukir semburat senyum. Selain ciri fisik yang dikenal betul oleh perempuan paruh baya itu, deru nafas dan denyut nadinya sudah tak terasakan lagi

Dokter menutup seluruh tubuhnya dengan sebuah selimut tipis

*

Sebelum semuanya telah begitu terlambat, lebih baik sekarang bukan

#  Bunga lili yang dikenal dalam bahasa latin sebagai Lilium longiforum, berbentuk piala atau terompet panjang, besar, berwarna putih, dan berbau harum. Bunga ini sering dianggap sebagai lambang kemnurnian oleh bangsa Mesir, Yunani, dan Romawi kuno. Sebutan ‘lilium’ berasal dari bahasa Yunani ‘leirus’ yang berarti lembut dan licin.

Selasa, 31 Agustus 2010

a two sides mirror


Ia sesap jus belimbing yang baru saja dihidangkan pramusaji di mejanya, lamat-lamat, seakan berusaha menikmati tiap tegukan yang mengalir melalui tenggorokannya.
 "hhmmmm,,,,, ah, segar!. Kamu tau tidak, rasa manis dan asamnya bergumul dalam sebuah racikan superdahsyat. Jadi satu, mengaduk-aduk dan menghasilkan rasa yang selalu luar biasa!" terdengar satu celotehan penuh semangat dari mulut salah satu pengunjung di tempat yang bahkan tak bisa disebut café itu. Satu celotehan yang mengindikasikan sebuah kuliah panjang tentang filsafat jus belimbing akan segera dimulai.
"dahsyat!" tambahnya tak kalah semangat, sambil menjilati serat-serat jus belimbing yang menempel pada sedotan.
"sudah pasti ini adalah jus belimbing, karna ia punya sensasi asam yang mengagumkan. Jika hanya manis saja, pasti sudah kutuding pramusaji itu berusaha mengelabuiku!" nah, terbukti! Kuliah filsafat jus belimbing sepertinya akan semakin merajalela.
"Ehm,,sama seperti yang sedang terjadi pada kita dalam beberapa tahun belakangan  ini. Aku tau semua nyata!. Senyata jus belimbing yang baru saja kusesap."
"Tanyakanlah kenapa aku tau itu nyata! Baiklah, jika tak mau mengeluarkan suara untuk bertanya, tetap akan kuberitahu jawabannya. Ssssttt….
"Karna, aku merasakan asamnya seperti juga aku merasai manisnya!"
"Maka aku tau itu nyata. Maka aku bisa bedakan mana yang nyata dan mana yang hanya buah dari imaji tak berbatasku."
"nah sekarang kamu sudah tau, ijinkan aku kembali menyesap jus belimbing ini,ya.."

Dalam beberapa kali sruput, ia berhasil mengosongkan sampai setengah isi gelas di hadapannya. Mengambil jeda sejenak, kembali diteruskan celotehannya tanpa peduli  dunia sekitarnya. Tanpa peduli pada bulan bulat penuh yang diam-diam menyembul dari balik pepohonan. Tanpa peduli tatapan aneh para pengunjung lain. Ia tetap tancap gas…
"Ehmmm,,, kalau dilihat lagi, perjalanan kita lucu, ya! Mau atau tidak, sadar atau tidak, seperti ada gaya tarik-menarik yang membuat kita jadi seperti digelontorkan dari atas sana. Untuk kemudian dijatuhkan di sini, tepat di depan jus belimbing yang  uueeenakk ini..." seketika itu juga, sepiring jagung bakar datang ke meja " dan sepiring jagung bakar ini, tentunya!"
Ahahaaaahaa…." Dia tertawa ringan.

"Aku lanjutkan cerita,ya.." seperti biasa, tanpa menunggu jawaban 'iya' ataupun 'tidak' ia kembali tancap gas…
"Di satu titik nadir kebersamaan, seketika itu juga kita dihamburkan ke dua arah berbeda. Kita sering menyalahkan jarak, tapi senyatanya kita sadar pilihan kita sendirilah yang membuatnya jadi demikian. Lalu oposit gaya tarik-menarik bekerja semakin kuat pada kita. Namun tetap saja, seperti pegas yang diregang hingga titik jenuh, pada akhirnya akan kembali kan? Begitu juga cerita kita."
Kita kembali mengejar apa yang sempat tertinggal dalam kurun waktu tiga tahun lamanya. Ternyata hanya satu minggu, satu minggu untuk masa tiga tahun. Pegas itu ternyata tidak tahan lama-lama bersantai,ya... Kekuatan mahadahsyat kembali meregangnya.
Kita terpisah lagi. Kali ini tanpa kata, tanpa sapa,,
Pola itu terus-terusan berulang, dan sampailah kita di detik ini. Ya, bilangan waktu yang ini. Saat di mana tiba-tiba kamu dijatuhkan di depan hidungku.."
Ia ambil jeda sejenak di sini. Dan, coba tebak! Ya, jagung bakarnya sudah digerogoti yang tak lain oleh orang yang tadi tengah bicara panjang lebar itu. Sungguh hebat, benar-benar multitasking – bercerita sekaligus memamah jagung bakar.

Kali ini kesunyian ditingkahi jeda yang cukup panjang, dan dalam..Ejalah sebanyak kata-kata yang menghambur tak tentu dari mulutnya tadi, kalikan dengan seribu. Masih belum akan mampu gambarkan rasa yang ingin ia hantar pada orang itu. Orang yang sama yang ia kenal hampir delapan tahun silam, orang yang sama yang setia mengganggui tidurnya, orang yang sama yang tengah duduk di hadapannya detik ini. Hanya detik ini saja dan entah kapan lagi…

Saat kesunyian panjang itu menggaung, bulan sudah tinggi, hawa dingin sudah berkeliaran dan siap menusuk-nusuk, burung-burung sudah terlelap di sarangnya, dan ia masih enggan beranjak dari tempatnya. Masih inginkan sepotong cerita, lagi….

**********


Aku mendapatkan pesananku, segelas jus alpukat, yang jika dibandingkan dengan jus belimbing, ia akan kalah dari segi kesegaran yang dihasilkannya. Dari tadi aku hanya memperhatikan dia berbicara dan bercerita, tentang segala yang ia kuasai, yang ia kaitkan dengan jus belimbingnya. Filosofi jus belimbing, yang dia korelasikan dengan kehidupan yang aku dan dia alami. Sungguh, memang seperti sedang menerima kuliah filsafat, yang sebenarnya merupakan representasi dari rasa asam manis yang dikecap oleh lidahnya. Kini, aku memotong pembicarannya, mencoba mengambil jatah bicaraku, yang jika tetap kubiarkan, akan habis diisi olehnya.

"Kamu tau, jus alpukat mengenyangkan, walau tidak menyegarkan, jika dibandingkan dengan jus belimbing?" tanyaku memotong kata yang akan keluar dari mulutnya, berusaha mengurangi dominasi pembicarannya. Sebuah pertanyan yang lebih berupa sebuah informasi kepadanya, bukan pertanyaan yang mengharapkan jawaban.

"Dan kamu tau, kenapa aku suka dengan jus alpukat ini berbanding jus lainnya?" tanyaku lagi, beruntun, seperti dua buah peluru yang keluar dari dalam pistol yang ditarik pelatuknya dua kali oleh pemiliknya. Dan dari pertanyaan ini, aku tidak memerlukan jawaban darinya. Aku langsung mengakhiri pertanyaan kedua dengan jawabanku sendiri.

"Karena mengenyangkan, jadi mengurangi biaya makan", jawabku dengan jawaban yang terdengar penuh candaan walaupun itulah sebenarnya kenyataannya. Tawa kita berdua meledak, serentak, dan tanpa diberi aba-aba, kita mulai terbahak dari detik yang sama. Sebuah intermezzo dari sebuah kuliah filsafat belimbingmu, jawabku padanya.

Memang, aku belum bisa mengaitkan apapun, mengenai apa yang kita alami sekarang, melalui perumpamaan buah dan jus yang seperti dia lakukan. Bukan aku tidak memiliki ide untuk disampaikan. Kesamaan pikiran antara aku dan dia, sudah cukup menghabiskan kalimat-kalimat yang aku rencanakan akan aku sampaikan kepadanya. Dia telah lebih dulu mengeluarkan  semua ceritanya, cerita yang hampir sama dengan apa yang terdapat dalam kepalaku. Cerita tentang apa yang kami alami selama ini. Cerita tentang gaya tarik-menarik, cerita tentang waktu yang panjang, pertemuan-perpisahan-pertemuan dan seterusnya. Semua terkonsep dalam alam sadarku, bahkan selalu menggeliat keluar dan menjadi liar dalam tidurku. Dan, hampir semuanya sama.

Aku biarkan dia bercerita kembali, aku biarkan dia melanjtkan apa yang ingin ia sampaikan. Aku meletakkan tanganku di bawah tangannya, untuk kemudian menggenggam erat, seolah tak ingin melepaskannya. Dia tersemyum simpul, merona pipinya, kemudian melanjutkan narasinya yang tertunda karena terpotong oleh leluconku tadi.
Kuletakkan tangannya di pipiku. Kurasakan hangatnya jemari kecil, jari jemari yang dulu selalu mengirim sms sekedar untuk menyampaikan rindunya kepadaku. Jemari yang menulis semua surat-surat yang kini tetap aku simpan rapat-rapat di lemari usang-ku. Jemari yang mungkin sebentar lagi takkan bisa kugenggam lagi.

Kuhirup dalam-dalam jus alpukatku, berusaha mengejar ketertinggalan, menyamakan isi gelasku dan gelasnya. Aku menatap bulan, yang memang terlihat sempurna dari posisi di mana aku duduk. Malam begitu cerah, ketika purnama menggantung di langit yang seharusnya kelam. Yah, hatiku seperti purnama, terang di antara kelamnya malam.


segelas jus belimbing, sepiring jagung bakar, dan sepotong cerita

Ia sesap jus belimbing yang baru saja dihidangkan pramusaji di mejanya, lamat-lamat, seakan berusaha menikmati tiap tegukan yang mengalir melalui tenggorokannya.
 "hhmmmm,,,,, ah, segar!. Kamu tau tidak, rasa manis dan asamnya bergumul dalam sebuah racikan superdahsyat. Jadi satu, mengaduk-aduk dan menghasilkan rasa yang selalu luar biasa!" terdengar satu celotehan penuh semangat dari mulut salah satu pengunjung di tempat yang bahkan tak bisa disebut café itu. Satu celotehan yang mengindikasikan sebuah kuliah panjang tentang filsafat jus belimbing akan segera dimulai.
"dahsyat!" tambahnya tak kalah semangat, sambil menjilati serat-serat jus belimbing yang menempel pada sedotan.
"sudah pasti ini adalah jus belimbing, karna ia punya sensasi asam yang mengagumkan. Jika hanya manis saja, pasti sudah kutuding pramusaji itu berusaha mengelabuiku!" nah, terbukti! Kuliah filsafat jus belimbing sepertinya akan semakin merajalela.
"Ehm,,sama seperti yang sedang terjadi pada kita dalam beberapa tahun belakangan  ini. Aku tau semua nyata!. Senyata jus belimbing yang baru saja kusesap."
"Tanyakanlah kenapa aku tau itu nyata! Baiklah, jika tak mau mengeluarkan suara untuk bertanya, tetap akan kuberitahu jawabannya. Ssssttt….
"Karna, aku merasakan asamnya seperti juga aku merasai manisnya!"
"Maka aku tau itu nyata. Maka aku bisa bedakan mana yang nyata dan mana yang hanya buah dari imaji tak berbatasku."
"nah sekarang kamu sudah tau, ijinkan aku kembali menyesap jus belimbing ini,ya.."
Dalam beberapa kali sruput, ia berhasil mengosongkan sampai setengah isi gelas di hadapannya. Mengambil jeda sejenak, kembali diteruskan celotehannya tanpa peduli  dunia sekitarnya. Tanpa peduli pada bulan bulat penuh yang diam-diam menyembul dari balik pepohonan. Tanpa peduli tatapan aneh para pengunjung lain. Ia tetap tancap gas…
"Ehmmm,,, kalau dilihat lagi, perjalanan kita lucu, ya! Mau atau tidak, sadar atau tidak, seperti ada gaya tarik-menarik yang membuat kita jadi seperti digelontorkan dari atas sana. Untuk kemudian dijatuhkan di sini, tepat di depan jus belimbing yang  uueeenakk ini..." seketika itu juga, sepiring jagung bakar datang ke meja " dan sepiring jagung bakar ini, tentunya!"
Ahahaaaahaa…." Dia tertawa ringan.
"Aku lanjutkan cerita,ya.." seperti biasa, tanpa menunggu jawaban 'iya' ataupun 'tidak' ia kembali tancap gas…
"Di satu titik nadir kebersamaan, seketika itu juga kita dihamburkan ke dua arah berbeda. Kita sering menyalahkan jarak, tapi senyatanya kita sadar pilihan kita sendirilah yang membuatnya jadi demikian. Lalu oposit gaya tarik-menarik bekerja semakin kuat pada kita. Namun tetap saja, seperti pegas yang diregang hingga titik jenuh, pada akhirnya akan kembali kan? Begitu juga cerita kita."
Kita kembali mengejar apa yang sempat tertinggal dalam kurun waktu tiga tahun lamanya. Ternyata hanya satu minggu, satu minggu untuk masa tiga tahun. Pegas itu ternyata tidak tahan lama-lama bersantai,ya... Kekuatan mahadahsyat kembali meregangnya.
Kita terpisah lagi. Kali ini tanpa kata, tanpa sapa,,
Pola itu terus-terusan berulang, dan sampailah kita di detik ini. Ya, bilangan waktu yang ini. Saat di mana tiba-tiba kamu dijatuhkan di depan hidungku.."
Ia ambil jeda sejenak di sini. Dan, coba tebak! Ya, jagung bakarnya sudah digerogoti yang tak lain oleh orang yang tadi tengah bicara panjang lebar itu. Sungguh hebat, benar-benar multitasking – bercerita sekaligus memamah jagung bakar.
Kali ini kesunyian ditingkahi jeda yang cukup panjang, dan dalam..Ejalah sebanyak kata-kata yang menghambur tak tentu dari mulutnya tadi, kalikan dengan seribu. Masih belum akan mampu gambarkan rasa yang ingin ia hantar pada orang itu. Orang yang sama yang ia kenal hampir delapan tahun silam, orang yang sama yang setia mengganggui tidurnya, orang yang sama yang tengah duduk di hadapannya detik ini. Hanya detik ini saja dan entah kapan lagi…
Saat kesunyian panjang itu menggaung, bulan sudah tinggi, hawa dingin sudah berkeliaran dan siap menusuk-nusuk, burung-burung sudah terlelap di sarangnya, dan ia masih enggan beranjak dari tempatnya. Masih inginkan sepotong cerita, lagi….
dekalisa, 08/30/10

Minggu, 04 Oktober 2009

mon ange


"Dalam tiap keharuan yang membiru kulihat bilur-bilur kesedihan di matanya. Mata itu, mata yang selalu basah, begitu bening dan jernih. Ah, apa gerangan yang tersimpan dibalik sepasang mata indah itu. Kebahagiaankah? Atau malah sebaliknya? Tak seorangpun dibiarkan melihat lebih jauh dari mata bening jernihnya itu. Senyum yang terulas di sepanjang deretan gigi putih bersihnya itupun tampaknya tak mampu tuk menguak tabir rahasia hidupnya."

Pagi itu kulihat dia berjalan sendirian di halaman berumput di belakang Menara Lonceng. Keriut sepatunya diantara rerumputan basah itupun bisa menjadi suatu nada yang indah bagiku di hari sepagi itu. Kemudian tiba-tiba ia menyandarkan tubuhnya pada sebatang pohon Akasia. Memegangi bagian kepalanya, dan tiba-tiba ia menangis. Uh, apa yang terjadi pada bidadari pagiku? Mengapa ia membuat pagi yang cerah ini menjadi hampa seketika saat dijatuhkannya bulir-bulir air mata dari sepasang mata indahnya itu. Mata indah itu tak pantas berduka maupun terluka. Ingin kudatangi dan peluk dia. Tapi bagaimana bisa? Aku begitu tak mampu, dan lagipula memang tak pantas tuk berada di sampingnya. Kuurungkan niat tuk mendatangi dan memeluknya, dan tetap memilih tuk mengamatinya saja dari sini, dari jauh. Hingga dia tak kan pernah mengetahui bahwa aku ada di sini, memerhatikannya. Ia menutupi mukanya dengan sehelai saputangan, dan tangisnya semakin menjadi. Ia menangis sesenggukan. Aku iba padanya. Sungguh. Tapi yang terjadi pada menit berikutnya malah tangisnya berhenti seketika. Muka polos dan lucu itu disekanya dengan sapu tangan hingga tak satu tetes air matapun tersisa di wajahnya. Ia menarik nafas panjang, berusaha menghirup sebanyak-banyaknya oksigen. Seakan itu akan dapat menguatkannya. Dan benar saja, ia kelihatan lebih tegar pada detik berikutnya. Matanya membulat dan bibirnya melengkung membentuk senyum lega. Ia telah bangkit, berdiri dengan tegak. Hanya berdiri saja. Disitu. Berjam-jam. Matanya dipejamkan dengan wajah menengadah dan senyum di bibir manisnya itu. Rambutnya dipermain-mainkan oleh angin. Ia kini benar-benar terlihat bagai bidadari bagiku. Tapi ia hanya berdiri saja di situ. Lama. Seperti menanti sesuatu. Sesuatu yang begitu berarti buatnya. Buat seorang bidadari

Hari kemarin, aku juga sedang mengamatinya di halaman ini. Halaman berumput di belakang Menara Lonceng. Ia sedang duduk sendirian di bawah batang pohon Akasia. Pohon yang sama dengan hari ini. Tapi saat itu kulihat ia sedang terlelap, kukira. Matanya terpejam, menunujukkan kelopak mata yang berhiaskan bulu mata lentik dan panjang. Cantik nian. Namun sayang, sedang bersedih kelihatannya. Mulutnya dikatupkan, sesekali bergetar menyebut sesuatu. Tangannya disedekapkan di depan dada, seperti memeluk sesuatu. Namun kulihat tak ada satu benda pun yang tengah didekapnya. Kemudian, satu tetes air bening jatuh dari mata bening yang tengah tertutup itu. Jatuh tepat dalam dekapnya. Ia membuka matanya. Berkaca-kaca. Aku berlari, segera. Namun bukan ke arahnya. Aku berlari membelakanginya, menjauhinya. Aku tak tahan melihat mata bening itu sedang terluka. Aku sangat peduli padanya, namun tak mampu menunjukkan diri di hadapannya. Aku tak pantas. Sangat tak pantas….

Dua hari sebelum hari ini, di halaman berumput ini. Bidadari pagiku bersama seorang laki-laki duduk dan saling berbicara di bangku, di bawah pohon Akasia besar. Bayangnya menaungi mereka berdua. Satu sama lain saling memperhatikan dengan khidmat atas tiap susunan huruf tak alfabetis yang meluap dari bibir masing-masing. Diselingi tatap dan harap, satu sama lain berbicara dalam bahasa yang hanya dimengerti oleh mereka berdua. Keduanya akhirnya mengangguk, tanda telah memiliki pemahaman yang sama atas hal yang tengah dibicarakan. Tapi tiba-tiba jemari lentik bidadariku diraih oleh orang itu. Digenggam. Lama, kemudian baru dilepaskan. Aku berontak! Meronta! Tak rela bidadariku disentuh orang itu. Tapi bidadariku hanya tersenyum, senyum pahit menurutku. Karna matanya tak tunjukkan pancaran bahagia. Ada apa, Bidadari? Katakanlah sesuatu, biar aku tahu isi hatimu. Walau tak bisa kuobati namun dapat kudengar dan perhatikan agar legakan hatimu. Katakan, Bidadari. Mata beningmu tak mampu dustaiku. Kemudian tiba-tiba orang itu melangkah, menjauh dari bidadariku. Sesekali ia menoleh. Namun bidadari pagiku nan indah tak bergeming sama sekali. Mulutnya yang terkatup rapat berusaha gumamkan sesuatu. Sesuatu yang tak dapat kutangkap maknanya dengan jelas. Tapi satu yang kuketahui dengan pasti, bidadariku sedang berputar-putar dalam pusaran keharuan yang membiru. Yang hadirkan bilur-bilur kesedihan dalam mata bening dan jernihanya yang kini berkaca-kaca. Langkah orang itu semakin cepat meninggalkan bidadariku sendirian. Bidadariku masih berdiri, di sana. Sendirian. Tanpa mampu kuhampiri.

Tiga hari sebelum hari ini, ia juga berada di halaman berumput ini. Namun, kala itu ia menari penuh riang. Tertawa gembira bersama dedaunan dan sapuan angin hangat khas musim semi. Riangnya menambah hangat perasaanku kala itu. Tapi tentu saja, aku tetap di sini, mengamatinya. Karena ia disana menari dan menyenandungkan ritme-ritme hangat, bersama seseorang lain. Bukan, itu bukan aku. Aku yakin itu. Orang itu bukanlah aku...


(this one is still my fave.
this story was written in 2006, when everything seems to be good)

Kamis, 01 Oktober 2009

tak perlu membahasakan, rasakan saja

Biar akan kusimpan saja
Kutelan, kulumat, hingga membuncah, pecah
Merobohkan dinding pertahanan yang memang sudah lemah

Biar akan kurasakan saja hempasannya
Kutahankan saja perihnya
Dan tinggal kunikmati pecahannya,
Memunguti remahnya,
yang menghambur tak berarah ke udara hampa

sssh, jangan lagi bicara
bukan itu cara kita mentransformasi rasa
inilah satu-satunya cara kita merasa
dengan rasa saja
hanya rasa

Perlahan mata kita yang sebelumnya berputar kian-kemari mencari-cari objek untuk saling mengalihkan perhatian akhirnya menemukan jalan untuk saling bertemu. Untuk sesaat saling menatap, menyelami rasa yang menunggu untuk menyeruak. Tiba-tiba, pengap.... dan aku tak mampu menahannya lebih lama lagi. Kutumpahkan saja tetesan bulir hangat dari mataku yang memang sudah menyesak-nyesak sedari tadi, semenjak kita berdua terduduk tanpa kata di sini. Aku tergugu,,,
Kau hanya diam. Aku ingin menjerit, namun pada detik berikutnya yang terdengar dari mulutku hanyalah suara erangan lemah, tak sanggup lagi membahasakan rasaku. Aku putus asa, kembali menekur. Tak berani lagi menatap matamu yang berbahasa lebih dalam daripada tiap kata yang berusaha kulontarkan. Aku menyerah,,
Kau masih diam, aku mengangkat kepala dan kau masih dalam posisi yang sama, menatapku lekat-lekat. Matamu berkaca-kaca, namun bibirmu melengkung membentuk senyum khas dirimu. Bukankah ini tak lazim, kau menangis tanpa benar-benar berairmata dengan senyum menghiasnya. Tak sadar, aku tengah menatap dalam, ke dalam matamu. Sesaat kemudian kau genggam tanganku, dan hangatnya menggelenyar, menggetarkan. Aku tersentak,,
Inikah jalan yang kau pilih untuk menjelaskan padaku, bahwa rasa akan tetap ada meski tak ada dan tak mungkin akan ada jalan untuk membahasakannya. Ketika semua jalan telah menunjukkan bahwa semua ini akan berakhir, rasa itu akan tetap ada. Aku menyiratkan tanya penuh harap. Kemudian tatapan itu, hanya tatapan itu saja, yang pada akhirnya menyudahi pertemuan kita
“Rasakan...hanya rasa saja”, bisikmu lembut…
Sesaat ku pahami.
Tak perlu bahasa, cukup rasakan
rasa yang kita rasa…
dan aku pulang dengan segudang perasaan.. membuncah, melimpah ruah di dadaku.
Biarkan saja ia menghempasku. Akan kurasakan saja. Kunikmati saja. Karna hanya itulah satu-satunya jalanku untuk membawa serta dirimu. Dimanapun, dan entah bersama siapapun dirimu. selamanya..