Rabu, 02 Maret 2011

sendiri, dan koloninya

Sudah berpuluh bahkan beribu kali dua puluh empat jam aku telah  habiskan dengan diriku sendiri, sayang. Sudah selama itu pula aku mulai mengakrabi sepi, menjamu sendiri. Aku telah melumat sekaligus mengakrabinya. Ya, sudah lama. Sudah lama sekali, sayang. Aku sudah mencintai kesendirian seada-adanya ia..

Tak perduli betapa ia kadang menghempas-hempaskan selagi merobek semangatku hingga kuyu, layu, tak bersisa. Di lain waktu ia malah dengan pongah mengagregasinya sedemikian rupa hingga aku tak dapat dihentikan. Ya, itulah dia yang telah aku lumat sekaligus melumatku, yang telah aku akrabi selagi ia akrabiku, yang telah aku cintai seada-adanya ia..

Sekarang, kau bisa lihat, sayang.. Betapa aku sudah menjadi karib dengannya. Sudah terlanjur begitu akrab dengan dia yang dahulu teramat aku benci.

Sayang, kamu tahu? Sebentar lagi ia juga akan meninggalkanku. Seperti semua hal yang sudah terlanjur menjadi tabiat karna biasa.Ia juga akan pergi, sama seperti semua hal lainnya. Pergi, berganti... Sedangkan aku, aku akan belajar lagi, dari awal, untuk mengakrabi, menjamu, mencinta koloninya yang akan segera datang. Mengakrabi, menjamu, dan mencintainya seada-adanya. Seperti dahulu aku mengakrabi kesendirian yang kini telah akan pergi.

bilangan mungkin

Bukan, aku bukan ahli membaca masa depan. Pun bukan manusia berkekuatan magis. Hanya saja, hati yang sudah terpaut terlampau dalam, hingga mampu merasamu. Mungkin detaknya sudah terlalu menyatu, mungkin geombangnya sudah terlanjur sinkron. Atau mungkin, ada kisah telah menunggu untuk ditapaki di jalan bersimpangan ini.

 Ya, memang hanya bilangan mungkin mampu ku utarakan sebagai penawar sebuah tanya yang pernah terlontar. Karna tak siapapun mampu menjawab dengan pasti, maka kali ini aku hanya mampu mengakhirkan dengan koma, bukan titik,

Jumat, 28 Januari 2011

Menunggu adalah.....

Aku tidak bisa memaksa mata untuk mengalihkan pandangan dari jam dinding. Tidak bisa menahan telinga dari berusaha keras menangkap deru suara kendaraan. Tidak bisa mengontrol jantung yang berdegub terlampau cepat, pertanda hatiku sedang cemas. Tidak dapat juga menghentikan otak untuk berpikir, apa yang menahannya untuk tidak pulang padaku kali ini

Di luar, kegelapan sudah semakin pekat, dan langit mulai bergermuruh hebat. Sudah empat jam berlalu sejak aku terduduk di kursi goyang di teras ini. Pada akhirnya, di saat jam dinding tepat menunjuk angka 12, aku menyerah. Mungkin tidak hari ini, pikirku

Aku kembali masuk dengan tubuh yang semakin gemetaran. Memang, sudah dua bulan belakangan ini tubuh tuaku tak bisa lagi menahan paparan cuaca dingin untuk waktu yang lama. Menunggunya di kamar saja, batinku. Aku berjalan melewati teman-teman lain yang berkumpul di ruang santai. Terbius oleh sebuah kotak ajaib bercahaya ukuran 21 inci itu. Aku bahkanmeyakini, sebagian besar dari mereka tidak benar-benar mengerti apa yang tengah ditayangkan kotak bercahaya itu. Tapi sudahlah,  malam ini aku tak mau peduli dulu tentang itu.

Aku terus berjalan ke kamar, dengan susah payah menyeret kedua kakiku yang sudah menjadi sangat lemah ini. Naik ke tempat tidur dan menarik selimut tipis dan usang ini, mencoba membenamkan diri dalam-dalam. Menekan kuat-kuat rasa kecewa dan tersisihkan yang sudah kutelan selama beberapa tahun lamanya. Rasa terpinggirkan yang memang sudah menjadi makanan sehari-hari.

Ternyata, lagi-lagi, tidak hari ini Ros menjemputku

Dalam pelukan selimut tua ini, bayangan Ros melintas-lintas. Ros yang begitu lucu dan jenaka saat masih ada di pangkuanku, Ros yang merupakan anak cerdas di sekolahnya, Ros yang lulus kuliah dengan predikat sangat memuaskan, ahhh Ros yang cantik,yang cerdas, yang merupakan kebanggaanku. Anak semata wayangku yang kugadang-gadang akan menjadi orang sukses nantinya

Memang tidak salah, dia – anakku tersayang itu- telah menjadi orang besar, orang sukses.  Karna itulah, ia tidak bisa lagi membawaku serta saat ia harus ditugaskan di suatu tempat yang katanya jauh sekali. Oleh sebab itu, aku yang menumpang hidup padanya, terpaksa ia titipkan di sini, di panti ini. Walau bersikeras masih dapat menjaga diriku sendiri, ia menolak. Ia tak bisa menerima. Dan pada akhirnya menempatkanku di sini, bersama banyak orang tua terlantar lainnya. Sebenarnya amat perih, Ros-ku yang kugadang-gadang, meminggirkan aku dari hidupnya. Tapi toh, waktu beberapa tahun sudah terlewati, dan Ros berjanji akan kembali untuk menjemputku

Ahh, Ros-ku yang cantik, kalau memang tidak hari ini tak apalah,, Semoga esok kamu datang dan membawaku bersamamu

**

Ahhh, akhirnya

Di suatu pagi yang amat cerah, Ros datang. Ia datang dengan gaun pendek merah cerah, yang membungkus tubuh indahnya itu dengan sempurna. Ia memeluk sekantung besar bunga lili-kesukaanku. Tidak salah lagi, itu Ros. Dia memang cantik, bahkan terlihat lebih cantik dari terakhir kali aku melihatnya, saat ia mengantarkanku ke tempat ini. Ia turun dari mobil, senyumnya mengembang, ia berlari ke arahku. Segera mendekapku, memelukku erat..  Aku balas merangkulnya, meluapkan perasaan sayangku untuknya yang telah menunggu bertahun-tahun lamanya. “Kenapa lama sekali,Ros?” gumamku. Ia  gusar, seperti tak ingin menjawab, hanya menciumi wajahku saja

Ia akhirnya berkata “Maaf, membuat mama menunggu lama.. Tapi sekarang, Ros sudah selesai dengan semuanya. Sekarang hanya kita berdua. Ayo mama, kita pulang sekarang.. “
Aku tersenyum lega, aku menangis haru, , dan hanya bisa berkata, 
“Ahhhhhhh,akhirnya………..”

**

Pagi itu, seorang wanita paruh baya dengan dandanan kusut, melangkah tergesa ke sebuah unit instalasi gawat darurat di sebuah rumah sakit. Terlihat sekali, ia belum sempat membenahi dirinya dan langsung berangkat menuju rumah sakit yang disebutkan oleh pemilik panti werdha yang menghubunginya tadi subuh. Kebingungan, ia melongok setiap kamar yang dilalui, hingga akhirnya sampai di sebuah kamar. Pandangannya tertumbuk pada sosok renta seorang wanita tua berkulit putih pucat, rambut yang telah tipis dan putih seputih perak, mata yang terpejam, serta bibir mengukir semburat senyum. Selain ciri fisik yang dikenal betul oleh perempuan paruh baya itu, deru nafas dan denyut nadinya sudah tak terasakan lagi

Dokter menutup seluruh tubuhnya dengan sebuah selimut tipis

*

Sebelum semuanya telah begitu terlambat, lebih baik sekarang bukan

#  Bunga lili yang dikenal dalam bahasa latin sebagai Lilium longiforum, berbentuk piala atau terompet panjang, besar, berwarna putih, dan berbau harum. Bunga ini sering dianggap sebagai lambang kemnurnian oleh bangsa Mesir, Yunani, dan Romawi kuno. Sebutan ‘lilium’ berasal dari bahasa Yunani ‘leirus’ yang berarti lembut dan licin.

Kamis, 27 Januari 2011

LOTS OF LAUGH, LOTS OF LOVE

Kita pernah bersama-sama di satu rentang waktu kan?

Di masa semuanya bukanlah soal yang terlalu penting, tidak begitu penting selama kita terus bersama-sama, berbagi, dan tertawa.

Di masa itu, kita bagi segalanya, hingga tak ada ruang bahkan untuk yang namanya rahasia. Tak ada ketakutan menumpahkan segala  cerita termasuk bagian terburuk  dari diri kita sekalipun – karna kita tau, sahabat tak mengadili, tak juga menghakimi. Cukup mendengarkan dengan sedikit dibumbui kebawelan dan, tentu saja, lots of laugh, lots of love :D . Mendengarkan, berbagi, dan tertawa, itulah ritual kita. Ya kan, gaiss?

Sayangnya, waktu tak mau lama-lama berdiam di satu titik. Karna konon kabarnya, satu-satunya hal yang tetap, pasti, dan niscaya, adalah perubahan. Bukankah itu juga yang terjadi pada kita? Masa itu, satu rentang waktu itu, sudah pergi, hilang, menguap, hingga tak bisa tergenggam lagi. Namun begitu, satu masa itu -ya rentang waktu yang itu- cukup mengisi hati kita dengan kehangatan, kebahagiaan, juga kasih sayang, sebagai bekal menjejakkan langkah ke depan, ke bilangan waktu yang sudah menanti di depan.

Sekarang, kita berada di masa sekarang. Sebuah masa yang disebut sebagai kekinian, KINI, PRESENT, bukan past ataupun future. Inilah kita, teman… Menjejak di atas bayangan kita tepat pada masa sekarang. Tergiring ke berbagai arah yang semakin mementalkan dimensi fisik antara kita.

Sekarang, di sini… di atas bayanganku sendiri. Di ordinat ini, di ruang yang terentang cukup jauh dari kalian, aku merindukan semuanya.  Merindukan berbagi, merindukan mendengarkan, merindukan tertawa bersama kalian. Merindukan moment yang aku pilih untuk disebut dengan,
lots of laugh lots of love…
once upon  time

Jumat, 05 November 2010

saya rindu......

well, it's been a long time...
sebenarnya...
sebenarnya...
saya rindu,,,,
saya rindu...
sungguh rindu padanya...


saya rindu....


menulis.




saya rindu...
apa saja tentangnya saya rindu..
saya rindu perasaan itu menjalar dari hati , menelusur ke jemari untuk kemudian ditelurkan oleh ujung pena atau tuts-tuts kibor..
saya rindu rolerkoster emosi saat tengah berdua-duaan saja dengannya
saya rindu terhanyut dan menderaskan seluruh yang ada di otak dan hati, sesegera mungkin sebelum ia menguap lagi...
saya rindu coretan-coretan tak jelas yang saya sebut tulisan itu...


saya rindu senyum-senyum simpul atau bahkan kerutan alis yang mengiri tiap kata yang berhasil ditelurkan...
saya rindu megawang-awang demi memilih diksi, yang walaupun sudah dipilih terkadang masih kurang pas..haha!
saya rindu kalimat-kalimat yang seringkali hiperbolis cenderung lebay itu mendarat di kertas putih tak berdosa... 
saya rindu bagaimana stuck dan lancarnya ia mengalir...
ahhh, saya rindu pada coretan-coretan tidak jelas yang saya sebut tulisan itu...


ya, saya rindu pada apa saja tentangnya.
mungkin tentang menyemutnya manusia di gelora bung karno waktu itu..
mungkin tentang cerita si sepatu usang..
mungkin tentang keajaiban  yang masih selalu terasa hangat...
mungkin tentang supernova...
mungkin tentang mata dunia bernama hubble...
mungkin tentang dia..
atau mungkin, tentang saat itu....??


bisa jadi,
karna semua adalah tentangnya yang saya rindukan...

Selasa, 28 September 2010

pray, it is....


Ya Allah, sesungguhnya aku memohon cintaMu, cinta orang-orang yang mencintaiMu dan amal yang dapat mengantarku pada cintaMu. Ya Allah, jadikan cintaMu lebih aku cintai dari diriku sendiri, keluargaku dan dari air yang dingin

Sabtu, 18 September 2010

coretan sabtu pagi


Ehmmm,kali ini tulisannya tidak akan tertata, dan tidak akan berusaha menatanya. Sedikitpun..

Tulisan ini berkisah mengenai seorang yang tak bisa memilah dan membedakan kenangan. Sesorang yang menggunakan kata ampuh yang sama untuk banyak perempuan yang numpang hadir atau bahkan sekedar lewat hidupnya. Seseorang yang terlalu murah dan mudah menjual kata-kata pada setiap, ehm,, perempuan yang hadir dan numpang lewat di hidupnya..

Cerita ini dimulai dengan deheman sopir buskota, yang tiba-tiba ngerem mendadak di tengah lalulintas padat. Akhirnya bus berhenti, secara tiba-tiba pastinya. Sopir bus yang berdehem tadi kesal dan langsung membelalakkan matanya ke arah seseorang yang berteriak minta busnya diberhentikan. Saat kata pertama dari sumpah serapah sang sopir mulai berhamburan dari mulutnya, penumpang tak tau diri yang berteriak histeris itu langsung menghambur keluar.. sang sopir nelangsa. Karna tak puas dengan kenyataan bahwa orang yang ingin dimakinya sudah menghilang di ujung jalan. Akhirnya ia telan ludah, telan kembali amarah yang sudah di ubun-ubun.. bus pun melaju dengan ogah-ogahan, seperti sang sopir yang mulai ogah-ogahan melanjutkan perjalanan di jalan ramai lancar itu…. Ternyata sang sopir juga menderita penyakit masa kini, #moodswing.

Sembari sang sopir berusaha melawan penyakit masa-kininya, si penumpang yang sudah berada di gang sempit itu kini berjalan agak loyo. Tidak seperti saat ia baru turun dari bis tadi, di mana ia berlari secepat mungkin. Bukan tanpa alasan hal itu ia lakukan. Ia baru tiba di kota tempat kasihnya-cintanya-sayangnya berada. Perasaan hati yang dagdigdug memaksanya untuk berjalan secepat mungkin menuju 'rumah hatinya' - 'selimut hatinya'. Itu istilahnya….

Pertemuan ala Rama-Shinta, Romeo-Juliet itupun terjadi dalam sejurus berikutnya. Maka berhamburanlah kata-kata mutiara dengan lancar jaya bagai air yang deras mengalir, dari sebuah rongga bernama mulut-yang didalamnya terdapat organ bernama lidah-yang konon kata orang tidak bertulang-yang karenanya dapat mengeluarkan kata-kata dalam susunan apapun tak peduli kata-kata itu pernah ia persembahkan kepada orang lain dengan sangat meyakinkannya.(waw..what a long sentence I had here!) Kata-kata mutiara yang konon katanya indah dan manis itu kembali berhamburan dengan deras, tidak peduli walau kata-kata itu dikutip dari kado seseorang lain untuknya.

Percakapan terus berlanjut. Kata mutiara terus berhamburan. Kenangan juga terus terukir. Menumpuk satu-demi-satu cerita dan puisi-puisi indah bersama sang rumah dan selimut hatinya. Hari beranjak senja, jingga mulai mengoyak biru.. Bukankah ini adalah momen terindah kebersamaan? Yang ada hanya semburat bayangan sepasang manusia itu, ditengah jingga dan biru yang saling melengkapi satu sama lain. Orang itu bahagia tak terkira, senyumnya bahkan tak cukup menampung kegirangan dan suka hatinya.. ahhh, cinta.. dimana-mana ia selalu terdengar dan tergambar indah…

Seperti kisah dongeng pada umumnya, mari kita akhiri saja potongan kisah satu ini dengan..
"dan mereka berdua akhirnya hidup bahagia selama-lamanya…" done!period!
Atau, ada yang ingin kisah ini berakhir dengan cara berbeda? Ahh, tak usahlah… bukankan kita selalu bahagia melihat sebuah happy ending?
yes for happy ending life stories


*Have a happy ending, everyone! ;)
Have a happy ending in our very own story, have a very happy ending for us all..!
Let us be busy creating a happy ending, for others, for us…